loading...

Tahapan Investasi Reksa Dana

Tidak jauh berbeda dengan beberapa jenis instrumen investasi, investasi melalui reksa dana juga melalui beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh calon investor. Berikut adalah beberapa langkah praktis bagi investor yang memilih reksa dana sebagai salah satu instrumen investasi.

Menetapkan tujuan dan jangka waktu investasi
Perencanaan investasi dimulai dengan menentukan tujuan investasi yang ingin dicapai dari investasi tersebut. Saat reksa dana menjadi instrumen untuk berinvestasi, maka Anda juga perlu merumuskan tujuan investasi yang akan dicapai dengan berinvestasi melalui reksa dana.
Langkah yang perlu dilakukan adalah menuliskan tujuan-tujuan investasi yang ingin dicapai, misalnya untuk memiliki dana darurat, pendidikan anak, pesangon saat pensiun dan sebagainya. Setelah itu, pisahkan tujuan keuangan tersebut sesuai target waktu jangka pendek, menengah dan panjang.
Berikut adalah contoh tujuan investasi yang ingin dicapai dalam jangka pendek, menengah dan panjang sesuai urutan prioritas yang pada intinya menjawab pertanyaan tentang:


  • Untuk apa dana hasil investasi reksa dana akan digunakan?

  • Kapan uang hasil investasi reksa dana akan digunakan?

Tujuan Investasi Jangka Waktu
Memiliki dana siaga sebesar Rp. 20 juta Jangka Pendek
Memiliki uang sebesar Rp. 30 juta untuk sekolah diprogram magister Jangka Menengah
Membeli mobil baru senilai Rp. 150 juta Jangka Menengah
Memiliki uang di bank untuk biaya hidup saat pensiun minimal Rp. 1 milyar Jangka Panjang
Memiliki ruko senilai Rp. 750 juta untuk disewakan Jangka Panjang

Memilih jenis reksa dana
Setelah menentukan tujuan dan jangka waktu investasi, reksa dana jenis apa yang kemudian harus dipilih untuk mencapai tujuan tersebut?
Pada artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai jenis-jenis reksa dana (saham, pendapatan tetap, campuran, pasar uang dan terproteksi) memiliki karakteristik untuk tujuan dan jangka waktu investasi yang berbeda.

Tujuan Investasi Jangka Waktu Jenis Reksa Dana
Likuiditas Pendek Pasar Uang
Pertumbuhan / Pertambahan Nilai Menengah Campuran
Proteksi Menengah Terproteksi
Pertambahan Nilai Menengah Pendapatan Tetap
Pertumbuhan Panjang Saham / Indeks

Sebagai contoh, jika tujuan investasi melalui reksa dana adalah untuk menjaga likuiditas dana yang setiap saat siap untuk digunakan, reksa dana pasar uang adalah pilihan yang dapat dapat digunakan. Keuntungan yang dapat diperoleh biasanya tidak akan terpaut jauh dengan tingkat suku bunga deposito sehingga tidak sesuai untuk sarana investasi dengan orientasi pembiakan dana. Namun, jika tujuan investasinya ingin membiakan dana saat ini untuk dapat digunakan pada saat pensiun nanti, reksa dana saham adalah jenis yang dapat dipilih.

Untuk lebih dari tujuan investasi, Anda dapat memilih beberapa jenis reksa dana sekaligus misalnya reksa dana pasar uang, pendapatan tetap dan saham. Intinya, Anda dapat memiih beberapa jenis reksa dana untuk tujuan investasi yang berbeda.

Selain tujuan dan jangka waktu investasi, tingkat toleransi Anda terhadap risiko juga harus dipertimbangkan sebelum memilih jenis reksa dana karena masing-masing jenis reksa dana juga memiliki kadar risiko yang sepadan dengan return yang bisa diperoleh. Makin tinggi keuntungan yang diharapkan, makin tinggi pula risikonya.

Masing-masing individu memiliki preferensi yang berbeda terhadap risiko yang secara teoritis dibagi menjadi tiga yaitu risk avoider (konservatif, penghindar risiko), risk neutral (moderat, cukup toleran terhadap risiko) dan risk seeker (agresif, sangat bisa menerima risiko).

Potensi Risk & Return Jenis Reksa Dana
Rendah Pasar Uang
Rendah Terproteksi
Moderat Campuran
Moderat Pendapatan Tetap
Tinggi Indeks
Sangat Tinggi Saham

Dengan mempertimbangkan risiko, maka sangat mungkin terjadi trade off saat memilih jenis reksa dana. Misalnya, pilihan terhadap reksa dana saham yang memiliki risiko tinggi tidak akan sesuai untuk investor yang kebetulan konservatif atau alergi terhadap risiko.

Jeni mana yang kemudian harus dipilih, kembali kepada Anda sebagai investor apakah memprioritaskan reksa dana berdasar tujuan atau risiko investasi.

Periodic Review
Setelah berinvestasi melalui reksa dana, investor bisa dikatakan tidak memerlukan banyak waktu untuk mengamati pasar, tetapi mengamati kinerja reksa dana itu adalah wajib dilakukan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja suatu reksa dana. Cara umum yang digunakan adalah dengan melihat NAB atau harga per unit penyertaan. Anda dapat menghitung prosentase keuntungan yang diperoleh dengan membandingkan antara harga unit penyertaan saat ini dengan harga saat pembelian. Misalnya, jika Anda membeli saat NAB per unit Rp. 1.000 dan saai ini NAB per unit Rp. 1.500, maka return yang diperoleh adalah 50%.

Dengan publikasi yang dilakukan melalui surat kabar bisnis seperti harian Bisnis Indonesia, Investor Daily atau laporan kinerja yang secara periodik dikeluarkan, Anda juga dapat melihat kinerja reksa dana selama jangka waktu tertentu, misalnya dalam waktu 1 bulan, 1 tahun atau sejak saat pertama kali diterbitkan.

Untuk melihat apakah return tersebut sesungguhnya menguntungkan atau tidak, maka diperlukan tolok ukur (benchmark) lain sebagai perbandingan. Tolok ukur yang biasanya digunakan adalah kinerja dari aset bebas risiko (risk free asset) seperti deposito atau suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Return yang diperoleh dari reksa dana tersebut seharusnya lebih tinggi daripada tingkat pengembalian yang diperoleh dari aset bebas risiko. Jika lebih rendah dari tingkat suku bunga deposito atau SBI, untuk apa bersusah-payah berinvestasi melalui reksa dana yang jelas-jelas memiliki risiko?

Metode yang biasa digunakan untuk membandingkan kinerja reksa dana dengan risk free asset adalah metode Sharpe, Treynor dan Jensen dimana ketiganya menyertakan risiko dalam menghitung kinerja reksa dana. Sharpe menggunakan ukuran standar deviasi, sedangkan Treynor dan Jensen menggunakan beta sebagai pengukur risiko.

Tolok ukur yang biasanya digunakan adalah dengan membandingkan return reksa dana tersebut dengan hasil dari investasi lain yang memiliki karakteristik sama. Misalnya, kinerja reksa dana saham dapat dibandingkan dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) sedangkan untuk kinerja reksa dana pasar uang dapat dibandingkan dengan rata-rata tingkat pengembalian deposito.

Tags: 



Disclaimer: Situs ini hanya bertujuan untuk memberikan informasi, pengetahuan dan pendidikan. Semua link hanya bertujuan untuk informasi saja. Konsultasikan dengan profesional atau praktisi sebelum membuat keputusan investasi Anda.