loading...

Strategi Investasi Reksa Dana

Investasi melalui reksa dana tidak lepas dari kondisi market yang dapat bergairah (bullish), lesu (bearish) atau tidak bergerak secara signifikan (sideways). Kondisi market yang berubah-ubah semacam ini terkadang membuat investor bertanya-tanya kapan saat yan tepat untuk membeli reksa dana dan jurus apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kerugian?

Jawabannya sungguh tidak mudah karena tidak ada panduan baku kapan timing yang tepat untuk masuk ke pasar melalui reksa dana. Strategi market timing merupakan strategi yang sulit untuk diterapkan dimana titik terendah dan tertinggi baru dapat kita ketahui apabila kedua titik tersebut sudah terlewati.

Oleh karena itu, ada beberapa strategi yang dapat digunakan investor saat akan menginvestasikan uangnya melalui reksa dana. Berikut adalah beberapa strategi investasi beserta contoh perhitungan.

Lump-sum
Lump-sum berarti menginvestasikan seluruh dana diawal periode. Misalnya, uang sebanyak Rp. 1,2 juta yang khusus digunakan untuk berinvestasi reksa dana dibelikan seluruhnya untuk memborong reksa dana.

Kelebihan strategi ini adalah Anda tidak dipusingkan dengan timing dan pengalokasian karena seluruh dana sudah ditanamkan disaat awal. Hanya saja, strategi ini dapat merugikan ketika membeli reksa dana saat market sedang mencapai puncak dimana Anda mendapatkan harga per unit penyertaan pada harga yang tinggi juga. Jika market berbalik arah, Anda akan rugi.

Misalnya, Anda menginvestasikan uang sebesar Rp. 1,2 juta dengan membeli reksa dana pada saat NAB atau harga per unit penyertaan Rp. 1.000. Dengan asumsi tidak ada biaya pembelian, maka jumalah unit yang akan diperoleh adalah 1.200 unit (Rp. 1,2 juta : Rp. 1.000).

Tabel Simulasi Lump-Sum

Nilai investasi yang akan diperoleh kemudian akan bergantung pada NAB per unit penyertaan pada saat itu. Misalnya, jika pada bulan Desember NAB per unit reksa dana tersebut adalah Rp. 1.100, maka nilai investasi pada saat itu menjadi Rp. 1.320.000 (1.200 unit x Rp. 1.100).

Constant Share (CS)
Constant share berarti Anda menginvestasikan dana untuk membeli reksa dana dengan jumlah unit yang sama secara berkala. Besarnya dana yang dikeluarkan akan bervariasi tergantung pada NAB atau harga per unit penyertaan pada saat pembelian.

Misalnya, setiap bulan Anda menyisihkan uang untuk membeli 100 unit penyertaan selama satu tahun. Besarnya dana yang Anda keluarkan adalah sebesar unit penyertaan yang dibeli dikalikan dengan NAB per unit pada saat pembelian.

Tabel Simulasi Constant Share

Nilai investasi yang akan diperoleh kemudian akan bergantung pada NAB per unit penyertaan pada saat itu. Misalnya, jika pada bulan Desember NAB per unit reksa dana terseebut adalah Rp. 1.025, maka nilai investasi pada saat itu menjadi Rp. 1.230.000 (1.200 unit x Rp. 1.025)

Dollar Cost Averaging (DCA)
DCA dilakukan dengan cara menginvestasikan dana dalam jumlah yang tetap secara berkala (misalnya seminggu sekali, sebulan sekali atau setahun sekali) selama periode waktu tertentu (misalnya selama lima tahun). Contoh, Anda secara rutin menginvestasikan Rp. 100.000 per bulan selama satu tahun. Strategi ini dilakukan dengan tidak memperdulikan kondisi pasar atau perekonomian. Saat pasar sedang bergairah atau melemah, perekonomian dalam kondisi krisis atau tidak, Anda tetap melakukan investasi secara rutin.

Ketiga tabel berikut adalah ilustrasi investasi reksa dana dengan cara DCA dalam kondisi market fluktuatif, naik dan turun yang ditunjukan dengan kenaikan dan penurunan NAB per unit.

Tabel Ilustrasi DCA pada Pasar Fluktuatif

Dari tabel tersebut, harga NAB per unit rata-rata yang diperoleh adalah Rp. 1.100 dengan nilai investasi pada akhir periode sebesar Rp. 1.117.805

Tabel Ilustrasi DCA pada Pasar Bullish


Tabel Ilustrasi DCA pada Pasar Bearish

Value Averaging (VA)
Value averaging adalah strategi investasi dengan cara menginvestasikan dana dalam jumlah tertentu secara berkala sehingga pertambahan nilai investasinya selalu tetap. Saat harga turun, Anda membeli lebih banyak dan sebaliknya saat harga naik, Anda membeli lebih sedikit untuk menyesuaikan nilai investasi.

Misalnya, Anda menginvestasikan uang sebesar Rp. 1 juta dan menginginkan investasi tersebut bertambah Rp. 100 ribu setiap bulan. Setelah bulan pertama, Anda harus melihat nilai aktual investasi dan mencari tahu perbedaan antara nilai yang diinginkan dan nilai aktual.

Jika nilai yang diinginkan lebih besar dari nilai aktual, maka Anda perlu menambah investasi dengan membeli kembali reksa dana untuk menutup ’kekurangan’ tersebut. Misalnya, jika nilai investasi yang dinginkan adalah Rp. 1.100.000 tetapi saat itu hanya bernilai Rp. 950.000, maka Anda harus menambah investasi sebesar Rp. 150.000.

Tags: 



Disclaimer: Situs ini hanya bertujuan untuk memberikan informasi, pengetahuan dan pendidikan. Semua link hanya bertujuan untuk informasi saja. Konsultasikan dengan profesional atau praktisi sebelum membuat keputusan investasi Anda.